Monday, April 18, 2016

Deklamasi puisi selepas keluar Utusan


Pada Jumaat 1 April 2016,  hari pertama saya tidak lagi menjadi keluarga besar Utusan Melayu selepas  bernaung  di "rumah pusaka bangsa"  itu selama 32 tahun 4 bulan,  saya mendeklamasikan puisi Pahlawan Yang Dipotong Lidahnya (karya Rozais Al-Anamy) pada acara pelancaran buku di Rumah Pena, Kuala Lumpur.


Gambar oleh Ladin Nuawi 



PAHLAWAN YANG DIPOTONG LIDAHNYA

Sewaktu kita berbicara tentang pahlawan yang dipotong lidahnya
Usahlah kau menyebut –nyebut sejumlah istilah yang sudah basi -
Kemerdekaan, kebebasan, ketelusan telah lama mati
Walaupun dijenamai seribu istilah murni
Mata mungkin buta tapi tidak mata hati.

Seorang pahlawan adalah gelar untuk sebuah perjuangan
namun kau terus mengharapkan si pengasah pedang berdiam diri
tatkala rumah pusaka hampir runtuh digergaji tiangnya
oleh musuh yang kau berikan selimut tadi malamnya.

Apalah ertinya pertarungan dengan lawan yang diikat tangan dan kaki
Tanpa menjunjung maruah kau berkali-kali bertitah tentang kesetiaan
Sedangkan anak bangsa semakin hilang peta tanahairnya
Tiada yang membela kerana semua dipasung akta dan denda.

Sewaktu kau bersuara tentang anjing yang setia
Usah kau lupa betismu yang akan digonggong binatang yang sama.


ROZAIS AL-ANAMY
Desa Pinggiran Putra, Putrajaya


1 comment:

  1. apa terjadi..akan terjadi..hujan pasti berhenti..!

    ReplyDelete